Beras Putih VS Beras Merah. Beras Putih telah kehilangan 80% Vitamin dan Menyebabkan Diabetes

Beras Putih VS Beras Merah. Beras Putih telah kehilangan 80% Vitamin dan Menyebabkan Diabetes | Wisata Seru.

Beras Merah

Dapatkah anda menebak, makanan apa yang dituding sebagai makanan utama penyebab penyakit diabetes dan jika tidak difortifikasi dengan vitamin oleh produsennya menyebabkan penyakit beri beri yang mematikan?

Betul, makanan tersebut adalah nasi putih. Mengapa nasi putih dituding sebagai penyebab utama diabetes? Hal ini disebabkan perkembangan diabetes terkait dengan konsumsi makanan yang memiliki indeks glikemik tinggi.

Indeks glikemik (GI) merupakan skala angka yang digunakan untuk menunjukkan seberapa cepat dan seberapa tinggi suatu makanan tertentu dapat meningkatkan kadar glukosa darah.

Nasi putih memiliki nilai GI sebesar 70 – 87. Angka GI tersebut tergolong tinggi sehingga tidak cocok untuk penderita diabetes. Sehingga, nasi putih dapat diganti dengan Beras Merah. Beras Merah ini adalah beras yang hanya mengalami proses minimal penggilingan. Proses tersebut hanya menghilangkan lapisan padi paling luar sehingga penurunan nilai nutrisi dapat diminimalkan. Pun, nilai GI beras merah tergolong rendah, yakni 55.

Penggilingan Beras menjadi Putih merusak 80 % vitamin dalam beras

Proses penggilingan dan pemutihan yang menjadikan beras merah menjadi beras putih merusak 67% vitamin B3, 80% vitamin B1, 90% vitamin B6, 50% mangaan dan fosfor, 60% besi, serta semua serat dan asam lemak esensial.

Mengapa Produsen Memilih membuat Beras Putih daripada Beras Merah?

Jawabannya tentu karena bagi produsen, beras putih lebih tahan lama dalam penyimpanan. Sementara bagi konsumen ada anggapan bahwa beras merah hanya makanan kalangan miskin atau bahkan makanan hewan. Memang, lapisan bekatul yang kaya minyak membuat beras merah tidak tahan lama atau mudah tengik pada suhu ruang. Namun, jika kita menyimpan dengan cara yang benar, beras merah ini dapat tahan hingga 1 tahun.

Cara menyimpan beras merah yang benar adalah diletakkan dalam wadah tertutup rapat dan disimpan dalam kulkas. Ya, jaman dulu hanya sedikit orang mengenal kulkas, tapi sekarang hampir tiap rumah memiliki kulkas, jadi tunggu apa lagi?

Mengapa Harus Beras Organik?

Hal ini untuk mencegah adanya kandungan senyawa toksik arsenik yang umumnya terkandung dalam beras yang dibudidayakan secara anorganik. Kadar rendah arsenik memang tidak akan menimbulkan penyakit akut, tetapi beresiko menimbulkan kanker dalam jangka panjang.

Manfaat mengkonsumsi Beras Merah.

Mengkonsumsi beras merah dalam jangka panjang, umumnya dapat membantu mengatasi beragam gangguan kesehatan dan dapat meningkatkan kebugaran tubuh serta dapat meningkatkan corak kulit. Efek menguntungkan lainnya sebagai berikut :

– Menurunkan kadar kolesterol jahat
– Mencegah penyakit jantung koroner
– Membantu menyehatkan jantung, terutama bagi wanita pasca – menopause
– Mengurangi resiko sindrom metabolik
– Mencegah kanker
– Membantu mencegah batu kemih
– Melindungi terjangkitinya asma pada anak anak
– Mengendalikan stress dan membantu tidur agar lebih nyenyak
– Meningkatkan “qi” dan stamina
– Mengurangi frekuensi buang air kecil pada malam hari
– Meningkatkan napsu makan
– Meningkatkan pencernaa dan mengatasi perut kembung
– Menghilangkan konstipasi
– Melancarkan sirkulasi darah
– Menghilangkan pegal pegal dan rematik
– Mengurangi perut gendut
– Meningkatkan corak kulit
– Mengingkatkan laju detoksifikasi
– Mengurangi sakit kepala dan migrain
– Meningkatkan pengaturan tekanan darah
– Menurunkan risiko diabetes dan meningkatkan kondisi diabetes

Cara memasak beras merah dengan rice cooker :

1. Cuci beras merah dengan air mengalir dan bersihkan kotoran yang bercampur di dalam-nya
2. Masukkan beras merah ke dalam rice cooker dan tambahkan air bersih dengan perbandingan air dan beras = 3:1 atau 2:1 (tergantung rice cooker anda).
3. Biarkan campuran tersebut di dalam rice cooker selama 30 menit sebelum memasaknya.
4. Nyalakan rice cooker, biarkan hingga matang. Sebelum dihidangkan, aduk nasi.

Sumber Tulisan : Buku real Food True Health halaman 23 – 29. Tulisan Dr. Ir. Muhammad Ahkam Subroto, M. App. Sc.

Comments are closed.